Jujur Adalah Kunci Kesuksesan dan Kebahagiaan

Oleh: Prof. Dr. KH. Miftah Faridl

arabAllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd…
Hari ini dengan izin Allah SWT kita bertemu kembali dengan salah satu hari besar Islam 1 Syawal 1436 Hijriah. Hari Idul Fitri; setelah satu bulan kita melaksanakan rangkaian ibadah Romadlon; Saum Romadlon, Qiyamullail, Tadarus Al Qur’an, dll.
Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita dan Allah mengampuni semua dosa-dosa kita.

Taqobalallohu Minna Wa Minkum.
Allahu Akbar Walillahilhamd….

Seperti yang pernah dipesankan oleh Rasulullah SAW, Kita gembira ketika kita bertemu dengan bulan Romadlon dan kita merasa sedih. Karena kita harus berpisah dengan bulan yang penuh Rahmah, Barokah dan Maghfirah Allah SWT.
Kita bersyukur kekhadirat Allah SWT karena kita telah diberi kesempatan untuk mengisi bulan suci Romadlon itu dengan berbagai amalan yang dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW sesuai dengan kemampuan kita.
Harapan kita, selain semua ibadah yang kita lakukan itu diterima oleh Allah SWT, dan kita mendapat ridlo-Nya, juga semua ’amalan itu dapat memberikan kesan spiritual dalam diri kita, dapat memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kesalihan dan ketaqwaan kita kepada Allah.
Sebagaimana yang dipesankan oleh Al Qur’an dan AsSunnah, bahwa ibadah yang baik itu selain berhasil mendapat ridlo atau pahala dari Allah SWT juga harus memberikan dampak bagi peningkatan kesalihan pelakunya, baik kesalihan secara spiritual dalam bentuk kesungguhan dalam mengamalkanibadah ibadah mahdloh maupun kesalihan sosial dalam bentuk prilaku yang baik, manfaat dan maslahat sesama ummat manusia bahkan baik dan bermanfaat untuk semua mahluk Allah termasuk dengan fauna dan flora; RAHMATAN LIL -ALAMIN.

Allahu Akbar.
Setelah satu bulan kita berlatih untuk mencapai derajat taqwa sebagaimana yang dinyatakan Al Qur’an Q.S. Al Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”, ada baiknya pada hari besar Idul Fitri sekarang ini marilah kita semua melakukan muhasabah, membaca dan menyadari kelemahan kita, kedloifan kita, marilah dengan jujur kita mengakui atas segala dosa dan kelemahan serta kekurangan kita. Bukan untuk diratapi bahkan bukan hanya untuk disesali, tapi untuk kita perbaiki.
Tahun ini kita harus lebih baik dari tahun-tahun yang lalu. Tahun ini hidup kita harus lebih berkualitas harus lebih bermanfaat daripada tahun-tahun yang telah kita lalui. Kalau tahun ini kita tidak lebih baik dari tahun lalu berarti kita merugi. Dan kalau tahun ini kita lebih jelek dari tahun yang lalu berarti kita celaka
Keberhasilan ibadah saum tidak hanya nampak pada saat proses ibadah saum itu berlangsung, tapi juga harus nampak pada prilaku kita setelah saum itu berakhir.

Allahu Akbar.
Salah satu masalah bangsa yang harus kita sikapi secara serius dewasa ini adalah menyangkut akhlak bangsa khususnya yang menyangkut kesalihan sosial. Kita sangat prihatin dengan kondisi moral bangsa yang mayoritas beragama Islam tapi akhlak sosialnya belum Islami.
Di satu sisi kita bersyukur bahwa orang yang shalat bertambah banyak, orang yang saum bertambah banyak, orang yang Umrah dan yang Haji juga bertambah banyak. Tapi disisi lain kita harus jujur mengakui bahwa Bangsa ini sedang mengalami krisis kesalihan sosial, orang yang tidak jujur sangat banyak bahkan ada dimana-mana. Yang kasar yang tidak santun juga sangat banyak, yang malas, yang bodoh, yang egois, yang materialistis hedonis masih banyak. Padahal menurut ajaran Islam, ibadah sholat, saum, dzikir, Umrah, Haji, dll itu mustinya harus dapat memberikan dampak postif bagi peningkatan akhlak sosial setiap pelakunya,.
Diantara ajaran tentang kesalihan sosial yang perlu mendapatkan perhatian kita dewasa ini ialah tentang kejujuran tentang akhlak jujur. Menurut ajaran Islam Jujur itu adalah akhlak utama yang harus dimiliki seorang muslim tapi jujur sering-sering justru menjadi akhlak yang asing yang aneh di beberapa komunitas muslim. Kejujuran sering-sering menjadi barang langka, orang jujur menjadi orang yang aneh dan terasing. Praktek–praktek ketiakjujuran sudah merasuk kepada hampir setiap aspek kehidupan, merambah kepada hampir setiap lapisan. Bicara dusta, berjanji palsu, mendapat amanat khianat sudah menjadi biasa, ada di mana-mana. Kita perlu menyegarkan kembali iman dan Islam kita tentang betapa pentingnya kejujuran, kita  tidak boleh lupa dan tidak boleh melupakan bahwa kejujuran adalah essensi penting dari ajaran Islam. Bahwa hidup jujur adalah hidupnya seorang muslim. Potret seorang muslim itu adalah jujur. Masyarakat yang Islami itu masyarakat yang jujur.

Allahu Akbar.
Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Nabi SAW: Ya Rasulullah, terangkan kepada kami, apa ‘amalan yang paling ringan dan apa ‘amalan yang paling berat dalam agama Islam? Rasulullah SAW menjawab ‘amalan yang paling ringan dalam Islam ialah membaca Dua Kalimah Syahadat, menyatakan Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Adalah Rasul Allah. Sedang ‘amalan yang paling berat bagi seorang muslim ialah jujur; sebab Tidak ada agama bagi orang yang tidak jujur. Tidak ada pahala shalat tidak ada pahala zakat bagi orang yang tidak jujur. (H.R. Bazzar).
Shahabat Anas berkata: Hampir tidak pernah Rasulullah berkhutbah, menyampaikan pesan moral kepada kami, kecuali didalamnya ada pesan: Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur. Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memenuhi janji. (H.R. Ahmad, Bazzar, Thabrani).
Ketika seseorang bertanya kepada Nabi tentang apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang muslim, beliau bersabda; Nyatakan olehmu bahwa aku beriman kepada Allah. Kemudian setelah itu kamu jangan bohong (Al Hadits).
Kejujuran adalah bukti keimanan, sedang kebohongan atau ketidakjujuran adalah awal dari segala bentuk dosa dan kejahatan.
Pesan-pesan moral Rasulullah SAW tentang kejujuran berulangkali disampaikan oleh beliau kepada umatnya, sehingga terkesan bahwa iman dan kejujuran itu melekat tidak bisa dipisahkan. Kalau seseorang itu benar-benar beriman pasti ia jujur. Dan kalau ia tidak jujur berarti ia tidak beriman. Sebab Iman dan kejujuran tidak bisa dipisahkan. Laaimana Liman Laa Amanatalah Wala Islama Liman Laa Amanata.
Tidak boleh terjadi seorang dikatakan sebagai manusia beriman tapi sayang ia tidak jujur. Atau seseorang disebut sholeh atau taqwa tapi sayang ia tidak jujur. Sebab begitu ia beriman mustinya ia jujur dan begitu ia tidak jujur pada saat itu ia tidak beriman.
Ketidakjujuran adalah sepertiga kemunafikan ” Tiga indikator kemunafikan seseorang ialah bicara dusta, berjanji palsu, mendapat amanah hianat”. (H. R. Bukhari).
Orang yang kalau berkata dusta, berjanji palsu dan mendapat amanat hianat (tidak jujur) dan dalam Hadits lain ada tambahan satu, yaitu kalau bisnis licik, maka yang bersangkutan adalah 100 persen munafiq. Dalam Hadits Muslim dikatakan, walaupun mereka itu shalat, puasa dan merasa dirinya muslim. Bahkan diajarkan oleh Nabi SAW bahwa gugur dalam suatu pertempuran di medan perang dapat menghapus semua dosa dan kesalahan kecuali ketidakjujuran (Hianat).

Allahu Akbar.
Salah satu sifat utama yang wajib bagi para Nabi dan Rasul adalah amanah, dapat dipercaya. Dan salah satu sifat yang musti dimiliki oleh seorang pemimpin juga dapat dipercaya, jujur. Nabi Muhammad SAW memiliki salah satu sifat unggulan sejak beliau kecil, ialah beliau jujur, dapat dipercaya, sehingga beliau dikenal oleh masyarakat dengan gelar Al ‘Amin, orang yang dapat dipercaya, orang yang jujur. Dengan bekal kejujurannya itulah, Rasulullah SAW sukses bisnis, sukses berkeluarga dan sukses membangun masyarakat Madinah, Makkah dan daerah-daerah sekitarnya.
Cerita tentang orang-orang shalih dan orang-orang yang sukses adalah cerita tentang orang-orang yang jujur, dan cerita orang yang tidak sukses hamper selalu identik dengan orang orang yang tidak jujur.
Jujur juga merupakan salah satu ahlak unggulan dari Khalifah-khalifah pengganti Rasulullah SAW, yaitu Khulafaurrasyidin, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali dan sekaligus menjadi kunci kesuksesan dan kemuliaan beliau-beliau tersebut. Ketidak jujuran bisa menjadi sebab utama terjadinya kegagalan bahkan musibah kehancuran. Muhammad kecil pasti cerdas tapi kecerdasan beliau tidak menjadi buah bibir masyarakat karena yang cerdas pada waktu itu banyak. Beliau pasti pribadi yang ulet tapi sifat itu tidak pula menjadi buah bibir masyarakat pada waktu itu, mungkin pribadi yang ulet juga banyak.  Yang manjadi buah bibir masyarakat adalah Muhammad Al-Amin, Muhammad yang jujur, karena mungkin yang jujur sulit di dapat pada waktu itu. Celakalah sebuah bangsa apabila di pimpin oleh orang orang yang tidak cerdas, tidak ulet. Lebih celaka lagi sebuah bangsa apabila di pimpin oleh orang orang yang tidak jujur. Adalah musibah besar kalau mereka terdiri dari orang orang yang tidak cerdas, tidak ulet dan juga tidak jujur. Rasulullah SAW menyampaikan pesan, sebagai berikut. “Berikan kepadaku jaminan dalam 6 hal, maka aku dapat memberikan jaminan kepadamu untuk dapat masuk sorga. Benar kalau berbicara, Penuhi kalau berjanji, Laksanakan amanah, Pelihara penglihatan, Jaga kemaluan, Kendalikan tangan”. (Al-Hadist)
Al-Qur’an menyatakan :
Innallaha Yamurukum An Tuaddul Amanat Ila Ahliha.

“Sesungguhnya Allah  memerintahkan kepadamu  untuk memenuhi amanah kepada ahlinya”. (Q.S. Annisa 65).

“Ciri orang yang taqwa itu menurut Al Qur ‘an antara lain, ialah mereka senantiasa jujur dalam menerima amanah, konsisten untuk memenuhi janji”.

Rasulullah SAW, bersabda: “lakukan kejujuran kepada orang yang jujur kepadamu. Dan jangan berlaku tidak jujur (walaupun) kepada orang yang tidak jujur kepadamu”. (HR. Addaruqutni).

Allah SWT berfirman: “Aku menyertai dua orang yang berkongsi sepanjang tidak ada satu pihak yang berkhianat kepada pihak lainnya”.
“perlindungan Allah akan menaungi dua yang bersyerikat, sepanjang tidak ada salah satu diantaranya yang berkhianat kepada pihak lainnya”.

Kejujuran itu dapat melahirkan ketenangan dan kedamaian, sedang ketidakjujuran dapat membuahkan kegelisahan, kecemasan, ketakutan, kekecewaan dan kerugian. Kejujuran adalah cermin dari kesalihan, sedang ketidakjujuran adalah gambaran ketidaksalihan. Orang jujur disayangi Allah dan disayangi manusia. Dan orang yang tidak jujur pasti dimurkai Allah SWT dan dibenci oleh manusia.
Banyak orang yang mempunya kekayaan tapi tidak punya kemuliaan, karena mereka tidak jujur. Banyak orang yang punya kedudukan tinggi tapi tidak punya kemuliaan karena mereka tidak jujur.
Ada sejumlah orang yang tidak punya kekayaan dan tidak punya kedudukan tapi mereka punya kemulyaan (‘Izzah) karena mereka jujur.
Kejujuran harus menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan khususnya pendidikan agama. Bahkan kejujuran juga harus menjadi perhatian utama orang tua dalam proses pendidikan anak di rumah tangga dan harus menjadi perhatian khusus dari semua guru yang mengajar di bidang keilmuan apapun.
Kejujuran harus menjadi kriteria utama untuk para pemimpin dalam segala tingkatan dan dalam segala lapangan, juga untuk para calon wakil rakyat. Nabi SAW mengajarkan; seseorang yang berdusta satu kali ia merasa berdosa, tapi kalau yang bersangkutan sudah biasa berdusta (Kadzzab/tukang dusta) ia berdusta dengan tidak merasa dosa, dusta menjadi biasa.
Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman: “kalau penduduk suatu bangsa itu iman dan taqwa (salah satu ciri taqwa ialah jujur); maka Allah akan membukakan bagi mereka pintu barokah dari langit dari bumi”. (Q.S. Al ‘Araf 96). Dan kalau kejujuran sudah menjadi barang langka, ketidakjujuran sudah menjadi semacam budaya, orang yang jujur menjadi langka orang yang tidak jujur ada di mana mana maka barokah akan menjadi sirna, kehidupan menjadi kering hampa tanpa ma’na. Kalau orang sudah tidak merasa dosa ketika berdusta, berjanji palsu dan menyalahi amanah, karena sudah biasa dan membudaya maka pada saatnya barokah akan diangkat dari bumi ke langit. Lautan, hutan, tanaman dan apa yang ada dibumi tidak akan memberikan kenyamanan, kebahagiaan, karena semuanya dikelola oleh kebohongan, kepalsuan dan penipuan.
Kalau kita ingin hidup barokah, hidup ni’mat, manfaat, maslahat, sehat dan taat, mulailah hidup kita dengan jujur.
Khalifah Umar bertemu dengan seorang pengembala kambing yang buta huruf, miskin, orang kampung yang tidak tahu perkembangan, Umar menawar seekor kambing yang digembalakannya. Pengembala menjawab saya tidak ada hak untuk menjualnya karena bukan pemiliknya. Ketika Umar menyatakan beritahu majikanmu kambing yang aku beli itu mati, uangnya terima olehmu. Majikanmu akan percaya dan engkau punya sejumlah uang. Ketika uang itu ditaruh di tangan pengembala tersebut, ia melepaskan uang tersebut dari tangannya dan ia menepukkan tangannya kepundak Umar sambil berkata Fainallah! Tuan dimana Allah. Tuan malu kepada Allah. Umar kaget, gembira, bangga, ia sujud syukur, ia berkata Ya Allah saya bahagia, saya bangga, rakyatku miskin, bodoh, tidak tahu perkembangan tapi ia jujur, ia tidak mau mengambil hak orang lain walaupun peluang terbuka dan ia sangat memerlukan, karena ia malu kepadaMu. Umar bertanya : masih adakah di akhir zaman nanti orang-orang yang seperti pengembala domba ini  yang tidak mau mengambil hak orang lain karena malu kepada Mu?.
Marilah kita yakinkan diri kita, bahwa rizki yang kita peroleh dengan tidak jujur akan menyebabkan do’a tidak akan dikabulkan. Bahwa jabatan dan kedudukan yang tidak diperoleh dengan jujur atau yang dikelola dengan cara yang tidak jujur akan membuahkan kehinaan didunia sekarang dan penderitaan di akhirat yang akan datang.

Dengan jujur kita akan memperoleh kemulyaan.
Dengan jujur kita akan memperoleh ketenangan.
Dengan jujur kita akan memperoleh keberkahan.

Kita semua wajib turut serta untuk membangun budaya jujur, dimanapun kita berada. Kita wajib jujur dan kita juga wajib mengajak orang lain supaya jujur dan menegakkan kejujuran. Kita wajib meninggalkan ketidakjujuran dan kita wajib mencegah atau melarang orang lain bertindak tidak jujur dan menghapuskan ketidakjujuran.
Marilah kita berjihad menghapuskan praktek-praltek ketidakjujuran  dan mulailah jihad itu dengan jihad mewujudkan kejujuran dalam diri kita sendiri. Mari kita menghapuskan ketidakjujuran dalam diri kita sendiri.
Kita sadar betul hidup jujur di tengah tengah masyarakat yang biasa tidak jujur itu berat, tapi insya Allah mulia. Untuk menjadi orang jujur di tengah-tengah masyarakat yang biasa tidak jujur bisa menjadi terasing, aneh dan tidak popular. Marilah kita siapkan diri untuk tidak popular. Sebab pencitraan diri sebagai orang jujur padahal tidak jujur adalah kemunafikan. Untuk membangun budaya jujur kita perlu siap dan berani mengambil resiko rugi asal dengan jujur daripada untung tapi dengan tidak jujur. Bahkan kita harus ridlo kalah tapi jujur daripada menang tapi dengan tidak jujur.
Insya Allah, kita akan meraih keberkahan dalam segala aspek kehidupan kita, kalau kita senantiasa jujur dalam setiap langkah kita.
Kepada Allah SWT kita serahkan semua langkah dan ikhtiar kita, karena Allahlah yang akan menentukan segala-galanya.

Marilah sejenak kita bermunajat kekhadirat-Nya

Ya Allah Tuhan kami,
Kami panjatkan puji dan syukur kekhadiratMu, atas izin dan perkenanMu kami mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan bulan suci pilihanMu.
Engkau pasti Maha Mengetahui apa-apa yang selama Ramadhlan kami lakukan.
Terimalah semua ’amal ibadah kami dan ampunilah semua khilaf dan kesalahan kami.
Berilah kami hikmah dan manfaat dari ibadah-ibadah kami untuk meningkatkan taqwa dan taqarub kami kekhadiratMu.
Berilah kami hikmah dan manfaat dari semua ’amalan kami bagi peningkatan kesolihan kami.

Ya Allah
 Engkau pasti Maha Mengetahui kualitas moral dan kesalihan kami.
Engkau pun Maha Kuasa dan Maha Perkasa untuk berbuat apa saja terhadap diri kami.
”hasbunallah  Wani’mal Wakill Ni’mal Maulaa Wani’mannashiir”.
”hasbiya Allahu Laa Illaha Illa Huwa ’Alayhi Tawakkaltu Wahuwa Rabbu Al’arsyial’azhiimi”

Ya Allah Tuhan kami,
Kami hamba-hambaMu yang lemah, yang tidak punya kekuatan apapun tanpa izin dan perkenanMu.
Engkau Maha Besar, Engkau Maha Kuasa, Engkau Maha Perkasa.
Kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin dan ridloMu.

Ya Allah, YaQowiyyu, Ya Matin.
Kami lemah tanpa kekuatanMu
Ya Allah, Ya ’Alim, Ya ’Allamal Ghuyub.
Kami bodoh tanpa ilmu anugerahMu.
Ya Allah, Ya Rozzak, Ya Ghoniyyu, Ya Mughni, Ya Karim.
Kami miskin tanpa kekayaan anugerahMu.
Ya Allah, Ya Hadi.
Kami sesat tanpa hidayah dan petunjukMu.
Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Arhamarrahimin.
Limpahkan kasih sayangMu kepada kami agar kami menjadi hamba-hambaMu yang senantiasa mencintaiMu dan dicintai olehMu.
Berilah kami kekuatan lahir dan bathin untuk dapat melaksanakan segala tugas dan kewajiban kami dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
Jauhkan kami dari segala dosa dan kesalahan dari kebohongan dan ketidakjujuran. Lindungi kami dari segala musibah dan malapetaka.
Curahkan kepada kami Rahman dan RahimMu agar kami bisa hidup sebagai Rahmatan Lil’alaimen, ummat wasathon litakuma syuhada’alannar.
Agar kami menjadi umat pilihan. Khoiro Ummah.
Agar kami menjadi umat pilihan,  ’Ibadunaliman allaizina Yamsuna’alalardli Haunan.
Agar kami menjadi hamba-hambaMu yang banyak memberi manfaat dan maslahat bagi orang lain.
Agar kami menjadi hamba-hambaMu yang selalu bisa menolong dan meringankan beban orang lain.

Ya Allah,
Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami.
Ampunilah segala dosa dan kesalahan ayah ibu kami.
Ampunilah segala dosa dan kesalahan para guru dan para pemimpin kami.
Ampunilah segala dosa orang-orang yang banyak berbuat baik kepada kami.
Ampunilah segala dosa orang-orang yang mungkin pernah kami sakiti, pernah kami khianati, pernah kami bohongi.
Allahumma Dzal Hablisy Syadiidi, Wal Amrir Rasyidi, As’alukal Amna Yauma Wa’iidi, Waljannata Yaumal Khuluudi Ma’al Muqarrabiinasy Syuhuudir Rukka’is Sujuudil Muufina Bil’uhuudi Innaka Rahiimun Waduudun, Innaka Taf’alu Maa Turiidu.

Allahummaj’alna Haadiina Muhtadiina Ghaira Dhaalliina Walaa Mudhiliina. Silman Liawliyaaika Wa Harban Lia’daaika, Nuhibbu Bihubbika Man Ahabbaka, Wa Nu’aadii Bi’adaawatika Man Khaalafaka. Allahumma Haadzad Du’aa’u Wa ’Alaykal Ijaabatu, Wa Haadzal Jahdu, Wa ’Alaykat Tuklaanu.


Robbanaa Aatinaa Fiddunyaa hasanah Wa Fil’aakhirati hasanah Wa Qinaa’adzaabannaar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd…..

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
(5.0)
5/5
(5.0)
5/5
(5.0)
5/5