Memaknai Zikir

Oleh KH DR. Miftah Faridl

Salah satu ibadah yang bisa dijalankan setiap saat dalam setiap aktifitas adalah berzikir kepada Allah SWT. Tangan bisa sambil bekerja, hati dan lisan bisa bergerak untuk mengucapkan zikir. Tentunya akan lebih sempurna dengan dibarengi oleh pemahaman dan keyakinan atas apa yang dizikirkan tersebut.

Misalnya zikir “Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim”, ketika tengah bepergian kita ucapkan, sehingga hati akan tenang mau berangkat ke mana pun minta kepada Allah agar diberi perlindungan. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Segala sesuatunya diserahkan kepada Allah saja.

Kepasrahan kepada Allah merupakan manifestasi keimanan, wujud keyakinan kepada Allah, percaya terhadap apa yang diperintahkan dan ditakdirkan Allah SWT. Zikir ini harus diwujudkan dalam sikap keseharian kita, di antaranya keyakinan tidak ada yang patut dipasrahkan jiwa raga kecuali kepada Allah. Ketika sakit, meyakini tidak ada yang bisa memberi kesembuhan kecuali Allah. Ketika berbicara merasa takut, tidak ada yang ditakuti kecuali takut kepada Allah. Begitu juga ketika berbicara cinta, tidak ada yang patut dicintai kecuali melebihi cinta kepada-Nya, mencintai yang lain yang berhak dicintai, karena Allah semata saja, dan dibawah kadar cinta kepada-Nya.

Ketika memulai pekerjaan ucapkan “bismillah”. Semua kegiatan mesti atas nama Allah. Sehingga memunculkan sikap optimis, tidak pesimis, juga ikhlas semata-mata karena Allah. Ketika mendapat nikmat ucapkan “alhamdulilah”, semua puji tanpa kecuali milik Allah, maka ketika ingin dipuji orang lain itu artinya ingin merampas hak Allah dengan sikap riya. Ketika mendapat sesuatu yang menyenangkan ucapkan “maasya Allah”. Artinya, atas kehendak Allah semua ini. Ketika berjanji “insya Allah”. Artinya, andai Allah menghendaki, namun bukan berarti menolak secara halus. Ketika mendapat nikmat ucapkan ‘Alhamdulilah’, karena semua nikmat berasal dari Allah SWT, dan boleh jadi ketika mendapat nikmat ada orang lain yang dirugikan, tersisihkan, membuat orang lain kecewa, lalu sertakanlah dengan ucapan “istighfar”. Kita ingin memperoleh kesuksesan tanpa membuat orang lain sakit hati, maka kita mohon ampun kepada Allah “astaghfirullahal ‘azhiim”. Dan yakini atas kesucian Allah atas nikmat yang diberi, maka ucapkan “Subhanallah wabihamdihi ”, sucikan Allah puji Allah ketika mendapatkan sesuatu.

Ketika mendengar ada musibah kita berlindung kepada Allah, ucapkan “Na’udzubillahi min dzaalik”, aku berlindung kepada Allah dari keadaan seperti itu. Kalau sedang di puncak marah beristighfarlah, “astaghfirullah”. Semakin tinggi marah semakin kalap. Seperti api yang membakar apa saja. Maka dianjurkan pula memohon perlindungan. Kepada Allah. Khusus zikir beristighfar pun ketika terlanjur berbuat salah, membuat orang lain rugi. Nabi Muhammad saw mengajarkan istighfar itu minimal bada sholat tiga kali. Sehari paling tidak 15 kali setelah shalat. Ada juga rutin yang dijalankan oleh nabi saw meminta ampun paling sedikit 70 kali.

Dalam QS Az Zariyat ayat 17 – 19 diungkapkan mengenai sifat orang yang bertakwa yang akan mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan, istighfar di waktu sahur:

“Hanya sedikit bagian malam yang dihabiskan untuk tidur; pada waktu sahur (akhir malam) mereka sibuk memohon ampunan; dan di dalam harta mereka ada alokasi untuk kaum papa, yang minta maupun yang tidak minta.” (Q.S. 51:)

Beberapa bentuk dzikir yang rutin dibaca nabi saw setelah shalat adalah istighfar tiga kali, Tasbih, Tahmid, dan takbir 33 kali. Ada tiga tanda bukti cinta seorang hamba kepada Allah, pertama, zikir. Zikir ini merupakan bukti cinta kita kepada Allah. Juga merupakan bentuk riyadloh/latihan. Dan Allah SWT pun mencintai hamba-Nya yang selalu menyebut nama-Nya dalam kehidupan sehari-harinya.

Memperbanyak zikir akan berpengaruh terhadap jiwa kita pula. Misalnya, dengan memperbanyak zikirSubhanallah walhamdulillah walaailaaha ilallahu wallahu akbar wa laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim, boleh diucapkan setiap saat. Zikir bukan hanya dijalankan setelah shalat, dan saat shalat malam, bahkan kapan pun merupakan bagian dari ibadah, yang berdampak terhadap kemampuan sabar dalam kehidupan. Juga berpengaruh terhadap kepasrahan agar tidak ada rasa takut, rasa khawatir, juga semakin mantap dalam menghadapi kehidupan ini. Sehingga terhindar perasaan sedih, kecewa, stress, tersinggung yang subyektif. Zikir akan mudah memasrahkan semua urusan hanya kepada Allah. Zikir pun akan menjadikan manusia-manusia yang unggul.

Kedua, dengan membaca Al Quran akan mendatangkan cinta-Nya, Insya Allah juga akan menenangkan sehingga akan menjadi manusia yang dicintai Allah. Sebagai bukti cinta kita kepada-Nya harus banyak membaca Al Quranul Karim. Membaca Al Quran berbeda dengan membaca buku, membaca buku harus paham, tapi membaca Al Quran akan berpahala, walaupun belum paham. Akan lebih sempurna jika membaca Al Quran dan paham artinya, diyakini di hati, maka akan mudah diamalkan. Juga menjadi media dialog dengan Allah SWT.

Ketiga, bukti cinta seorang hamba adalah dengan cara banyak berkunjung ke mesjid. Allah mencintai orang yang banyak berkunjung ke rumah-Nya. Allah SWT menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang hatinya senantiasa terpaut dengan mesjid. Ketika orang mencintai mesjid berarti dia sudah mencintai pemilik mesjid, yakni Allah SWT. Allah SWT akan membalas kecintaan hamba-Nya tersebut dengan kecintaan yang lebih besar. (Ketua MUI Kota Bandung, Dewan Syariah DPU Daarut Tauhiid).

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
(5.0)
5/5
(5.0)
5/5
(5.0)
5/5